![]() |
| gaya hidup asn di ikn |
Konsep "Kota 10 Menit" yang diterapkan di Ibu Kota Nusantara (IKN) kini mulai dirasakan manfaatnya secara nyata oleh para pegawai. Desain tata ruang yang mengintegrasikan hunian modern, gedung perkantoran, dan berbagai fasilitas publik dalam jarak dekat berhasil memangkas waktu perjalanan secara drastis.
Setiap sore setelah jam kerja, suasana Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) berangsur lengang tanpa menyisakan drama kemacetan khas kota besar. Mobilisasi para pegawai didukung penuh oleh kehadiran jalur pejalan kaki yang teduh, jalur sepeda, serta layanan bus listrik dalam kota yang beroperasi secara gratis.
Dampaknya, kualitas hidup dan keseimbangan waktu kerja-pribadi (work-life balance) para pionir IKN meningkat pesat. Waktu yang biasanya habis tersita di jalan kini beralih menjadi ruang produktif untuk berolahraga, menikmati ruang terbuka hijau, bersosialisasi di pusat kuliner, atau berkumpul bersama keluarga.
Mirfa, salah seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) Otorita IKN (OIKN) yang telah menetap selama setahun di Nusantara, mengakui adanya perubahan besar dalam ritme kehidupan sehari-harinya.
“Dulu setelah pulang kerja rasanya energi sudah habis karena perjalanan panjang. Sekarang, perubahan paling terasa bukan hanya jarak kantor yang dekat, tapi hidup jadi lebih seimbang. Pulang kerja saya masih punya banyak waktu dan energi untuk jogging atau latihan badminton. Rasanya hari tidak langsung habis begitu jam kantor selesai,” ungkapnya.
Kini, dengan semakin lengkapnya fasilitas penunjang, mulai dari layanan kesehatan terpadu hingga pusat kebugaran, Kota IKN tidak sekadar bertransformasi menjadi pusat pemerintahan baru, melainkan sebuah ekosistem urban ramah lingkungan yang memanusiakan para penghuninya.
sumber bacaan: editorial-kaltim, kutai-panrita, berita-borneo
Setiap sore setelah jam kerja, suasana Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) berangsur lengang tanpa menyisakan drama kemacetan khas kota besar. Mobilisasi para pegawai didukung penuh oleh kehadiran jalur pejalan kaki yang teduh, jalur sepeda, serta layanan bus listrik dalam kota yang beroperasi secara gratis.
Dampaknya, kualitas hidup dan keseimbangan waktu kerja-pribadi (work-life balance) para pionir IKN meningkat pesat. Waktu yang biasanya habis tersita di jalan kini beralih menjadi ruang produktif untuk berolahraga, menikmati ruang terbuka hijau, bersosialisasi di pusat kuliner, atau berkumpul bersama keluarga.
Mirfa, salah seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) Otorita IKN (OIKN) yang telah menetap selama setahun di Nusantara, mengakui adanya perubahan besar dalam ritme kehidupan sehari-harinya.
“Dulu setelah pulang kerja rasanya energi sudah habis karena perjalanan panjang. Sekarang, perubahan paling terasa bukan hanya jarak kantor yang dekat, tapi hidup jadi lebih seimbang. Pulang kerja saya masih punya banyak waktu dan energi untuk jogging atau latihan badminton. Rasanya hari tidak langsung habis begitu jam kantor selesai,” ungkapnya.
Kini, dengan semakin lengkapnya fasilitas penunjang, mulai dari layanan kesehatan terpadu hingga pusat kebugaran, Kota IKN tidak sekadar bertransformasi menjadi pusat pemerintahan baru, melainkan sebuah ekosistem urban ramah lingkungan yang memanusiakan para penghuninya.
sumber bacaan: editorial-kaltim, kutai-panrita, berita-borneo












