![]() |
| peta pemantauan |
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai mengancam kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur. Dalam beberapa hari terakhir, tim gabungan berjibaku memadamkan api yang melahap lebih dari 200 hektar lahan di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Bukit Soeharto. Dampaknya, kualitas udara di sebagian wilayah delineasi IKN merosot hingga ke tingkat tidak sehat.
Berdasarkan data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) pada Senin (31/8/2026) pukul 12.00 WITA, wilayah Wonotirto di Kecamatan Samboja—yang masuk dalam kawasan pengembangan IKN—mencatat angka 162. Angka tersebut menunjukkan konsentrasi polutan yang berpotensi memicu gangguan kesehatan masyarakat, terutama sistem pernapasan.
Deputi Bidang Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Otorita IKN, Myrna Safitri, membenarkan penurunan kualitas udara tersebut. Menurut dia, fluktuasi data didapat dari sensor pemantauan udara yang terpasang di lapangan.
"Data tersebut bersumber dari perangkat sensor yang kami pasang di kawasan IKN dan sudah terintegrasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH). Sebagai langkah antisipasi dampak kesehatan, kami sudah mengimbau masyarakat untuk kembali menggunakan masker," kata Myrna saat dihubungi, Senin.
Akses yang Sulit
Di sisi lain, upaya penjinakan api di lapangan menghadapi tantangan berat. Titik kebakaran utama terdeteksi sejak Sabtu (29/8/2026) di area Bukit Tengkorak, RT 001 Desa Sukomulyo, Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU). Area ini berada di dalam kawasan Tahura Bukit Soeharto yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Kutai Kartanegara.
Kapolresta Kawasan IKN Kombes Supriyanto, melalui Kasi Humas Ipda Jumansyah, menjelaskan bahwa vegetasi yang terbakar didominasi oleh semak belukar yang mengering akibat musim kemarau. Api juga sempat merembet ke area produktif warga.
"Lahan yang terbakar meliputi hutan komunal yang kosong serta sebagian perkebunan kelapa sawit dan pinang milik masyarakat setempat," ujar Jumansyah.
Hingga Senin sore, personel Polresta Kawasan IKN bersama tim gabungan dari Manggala Agni, BPBD, dan TNI masih terus melakukan lokalisasi api. Proses pemadaman berjalan lambat karena kendala geografis. Selain tumpukan biomassa kering yang tebal, sebagian besar titik api berada di area pedalaman yang tidak memiliki akses kendaraan, sehingga petugas harus berjalan kaki membawa pompa jinjing (jet shooter) menuju lokasi.
sumber bacaan: rri, media-indonesia
Berdasarkan data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) pada Senin (31/8/2026) pukul 12.00 WITA, wilayah Wonotirto di Kecamatan Samboja—yang masuk dalam kawasan pengembangan IKN—mencatat angka 162. Angka tersebut menunjukkan konsentrasi polutan yang berpotensi memicu gangguan kesehatan masyarakat, terutama sistem pernapasan.
Deputi Bidang Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Otorita IKN, Myrna Safitri, membenarkan penurunan kualitas udara tersebut. Menurut dia, fluktuasi data didapat dari sensor pemantauan udara yang terpasang di lapangan.
"Data tersebut bersumber dari perangkat sensor yang kami pasang di kawasan IKN dan sudah terintegrasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH). Sebagai langkah antisipasi dampak kesehatan, kami sudah mengimbau masyarakat untuk kembali menggunakan masker," kata Myrna saat dihubungi, Senin.
Akses yang Sulit
Di sisi lain, upaya penjinakan api di lapangan menghadapi tantangan berat. Titik kebakaran utama terdeteksi sejak Sabtu (29/8/2026) di area Bukit Tengkorak, RT 001 Desa Sukomulyo, Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU). Area ini berada di dalam kawasan Tahura Bukit Soeharto yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Kutai Kartanegara.
Kapolresta Kawasan IKN Kombes Supriyanto, melalui Kasi Humas Ipda Jumansyah, menjelaskan bahwa vegetasi yang terbakar didominasi oleh semak belukar yang mengering akibat musim kemarau. Api juga sempat merembet ke area produktif warga.
"Lahan yang terbakar meliputi hutan komunal yang kosong serta sebagian perkebunan kelapa sawit dan pinang milik masyarakat setempat," ujar Jumansyah.
Hingga Senin sore, personel Polresta Kawasan IKN bersama tim gabungan dari Manggala Agni, BPBD, dan TNI masih terus melakukan lokalisasi api. Proses pemadaman berjalan lambat karena kendala geografis. Selain tumpukan biomassa kering yang tebal, sebagian besar titik api berada di area pedalaman yang tidak memiliki akses kendaraan, sehingga petugas harus berjalan kaki membawa pompa jinjing (jet shooter) menuju lokasi.
sumber bacaan: rri, media-indonesia












