![]() |
| krisis air bersih |
Kemarau tiga bulan mengepung Samarinda. Ketika api karhutla melumat lahan, intrusi air laut mengasinkan Sungai Mahakam. Warga terpaksa mengonsumsi air keruh dan mengantre armada tangki yang datang terlambat.
Langit di atas Belimau, Kelurahan Lempake, Samarinda Utara, tak lagi biru bersih. Sejak tiga bulan lalu, jelaga dan kabut asap menggantung, bergantian mengepung permukiman warga. Saban hari, petaka kebakaran hutan dan lahan mendatangi wilayah ini bak giliran ronda—datang mengepul sejak siang hingga larut malam.
"Kadang siang, kadang sampai malam. Malam pun ada kejadian," kata Lilis Supriani, Selasa, 22 September lalu. Perempuan 30 tahun itu pasrah melihat tempat usahanya perlahan ditelan kabut kelabu.
Bagi Lilis dan ribuan warga Samarinda, napas yang sesak oleh asap hanyalah separuh dari penderitaan. Di dapur dan kamar mandi mereka, ada krisis lain yang sedang mengintai: air bersih yang kian langka.
Kalaupun tuas keran di rumah Lilis diputar dan mengalirkan air dari Perumda Tirta Kencana, yang keluar bukanlah air jernih siap pakai. "Kuning dan kotor," ujarnya geleng-geleng kepala. Untuk bertahan hidup, warga Belimau kini terpaksa kembali ke cara purba: menggali sumur dalam-dalam atau mengandalkan deru mesin pompa seadanya demi menyedot sisa air tanah yang belum mengering.
Serbuan Air Asin di Mahakam
Petaka air bersih di Samarinda sejatinya bersumber dari hilir Sungai Mahakam. Kemarau ekstrem yang panjang membuat debit air sungai menyusut drastis. Akibatnya, hukum alam bekerja: air laut merangsek masuk ke daratan—sebuah fenomena intrusi yang membuat kadar klorida di sungai melesat melampaui ambang batas aman 250 part per million (ppm). Sungai yang menjadi urat nadi air baku Samarinda itu berubah menjadi payau.
Tingginya kadar garam ini memaksa 10 Instalasi Pengolahan Air (IPA) di Samarinda mengerem produksinya. Jam operasional dipangkas demi menjaga mesin tidak korosi oleh karat air laut. Dampaknya langsung memukul urat nadi warga.
Pemerintah pusat melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan IV Samarinda akhirnya turun tangan menyalakan lampu darurat. Kepala BWS Kalimantan IV, Andri Rachmanto Wibowo, mengatakan pihaknya langsung menggelontorkan logistik air darurat secara cuma-cuma. “Penyaluran pasokan air bersih darurat sebanyak 98.000 liter ini disalurkan langsung untuk menjangkau 2.440 jiwa penerima manfaat terdampak,” tutur Andri.
Sebanyak sembilan puluh delapan ribu liter air diangkut menggunakan truk-truk tangki berkapasitas 4.000 liter. Armada ini bergerak spartan menuju titik-titik permukiman yang paling parah mengering.
Antrean Panjang yang Terlambat
Namun, di lapangan, urusan memadamkan dahaga warga tak semudah membalik telapak tangan. Manajemen logistik Pemerintah Kota Samarinda kedodoran. Mengandalkan 16 armada mobil tangki untuk melayani ribuan kepala keluarga yang menjerit kelaparan air membuat sistem distribusi macet. Jadwal pengiriman molor. Air yang dinanti warga kerap datang terlambat karena armada tersangkut dalam daftar antrean panjang di pos pengisian.
"Dengan jumlah kendaraan sekitar 16 tangki, ternyata jadwal pengirimannya menjadi sesuai urutannya, menjadi agak terlambat," aku Ketua BPBD Kota Samarinda sekaligus Ketua Satgas Penanganan Bencana Kekeringan, Suwarso, Kamis, 17 September lalu.
Sadar birokrasi tangki airnya berjalan lamban, Pemkot Samarinda buru-buru mengubah taktik. Hasil evaluasi dan mitigasi memaksa pemerintah menambah "benteng" penampungan baru: 20 unit tandon air berukuran raksasa disiapkan. Tandon-tandon ini nantinya tidak lagi menunggu antrean truk BPBD, melainkan dimobilisasi secara agresif menggunakan kendaraan taktis milik Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Samarinda.
Bagi warga Belimau, tandon tambahan dan janji manis percepatan distribusi itu adalah asa yang tersisa. Sementara itu, di bawah bayang-bayang langit Samarinda yang memerah oleh sisa api karhutla, jerigen-jerigen kosong warga masih berbaris rapi—menanti tetesan air yang tak kunjung pasti.
sumber bacaan: kompas, idn-times, pusaran-media
Langit di atas Belimau, Kelurahan Lempake, Samarinda Utara, tak lagi biru bersih. Sejak tiga bulan lalu, jelaga dan kabut asap menggantung, bergantian mengepung permukiman warga. Saban hari, petaka kebakaran hutan dan lahan mendatangi wilayah ini bak giliran ronda—datang mengepul sejak siang hingga larut malam.
"Kadang siang, kadang sampai malam. Malam pun ada kejadian," kata Lilis Supriani, Selasa, 22 September lalu. Perempuan 30 tahun itu pasrah melihat tempat usahanya perlahan ditelan kabut kelabu.
Bagi Lilis dan ribuan warga Samarinda, napas yang sesak oleh asap hanyalah separuh dari penderitaan. Di dapur dan kamar mandi mereka, ada krisis lain yang sedang mengintai: air bersih yang kian langka.
Kalaupun tuas keran di rumah Lilis diputar dan mengalirkan air dari Perumda Tirta Kencana, yang keluar bukanlah air jernih siap pakai. "Kuning dan kotor," ujarnya geleng-geleng kepala. Untuk bertahan hidup, warga Belimau kini terpaksa kembali ke cara purba: menggali sumur dalam-dalam atau mengandalkan deru mesin pompa seadanya demi menyedot sisa air tanah yang belum mengering.
Serbuan Air Asin di Mahakam
Petaka air bersih di Samarinda sejatinya bersumber dari hilir Sungai Mahakam. Kemarau ekstrem yang panjang membuat debit air sungai menyusut drastis. Akibatnya, hukum alam bekerja: air laut merangsek masuk ke daratan—sebuah fenomena intrusi yang membuat kadar klorida di sungai melesat melampaui ambang batas aman 250 part per million (ppm). Sungai yang menjadi urat nadi air baku Samarinda itu berubah menjadi payau.
Tingginya kadar garam ini memaksa 10 Instalasi Pengolahan Air (IPA) di Samarinda mengerem produksinya. Jam operasional dipangkas demi menjaga mesin tidak korosi oleh karat air laut. Dampaknya langsung memukul urat nadi warga.
Pemerintah pusat melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan IV Samarinda akhirnya turun tangan menyalakan lampu darurat. Kepala BWS Kalimantan IV, Andri Rachmanto Wibowo, mengatakan pihaknya langsung menggelontorkan logistik air darurat secara cuma-cuma. “Penyaluran pasokan air bersih darurat sebanyak 98.000 liter ini disalurkan langsung untuk menjangkau 2.440 jiwa penerima manfaat terdampak,” tutur Andri.
Sebanyak sembilan puluh delapan ribu liter air diangkut menggunakan truk-truk tangki berkapasitas 4.000 liter. Armada ini bergerak spartan menuju titik-titik permukiman yang paling parah mengering.
Antrean Panjang yang Terlambat
Namun, di lapangan, urusan memadamkan dahaga warga tak semudah membalik telapak tangan. Manajemen logistik Pemerintah Kota Samarinda kedodoran. Mengandalkan 16 armada mobil tangki untuk melayani ribuan kepala keluarga yang menjerit kelaparan air membuat sistem distribusi macet. Jadwal pengiriman molor. Air yang dinanti warga kerap datang terlambat karena armada tersangkut dalam daftar antrean panjang di pos pengisian.
"Dengan jumlah kendaraan sekitar 16 tangki, ternyata jadwal pengirimannya menjadi sesuai urutannya, menjadi agak terlambat," aku Ketua BPBD Kota Samarinda sekaligus Ketua Satgas Penanganan Bencana Kekeringan, Suwarso, Kamis, 17 September lalu.
Sadar birokrasi tangki airnya berjalan lamban, Pemkot Samarinda buru-buru mengubah taktik. Hasil evaluasi dan mitigasi memaksa pemerintah menambah "benteng" penampungan baru: 20 unit tandon air berukuran raksasa disiapkan. Tandon-tandon ini nantinya tidak lagi menunggu antrean truk BPBD, melainkan dimobilisasi secara agresif menggunakan kendaraan taktis milik Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Samarinda.
Bagi warga Belimau, tandon tambahan dan janji manis percepatan distribusi itu adalah asa yang tersisa. Sementara itu, di bawah bayang-bayang langit Samarinda yang memerah oleh sisa api karhutla, jerigen-jerigen kosong warga masih berbaris rapi—menanti tetesan air yang tak kunjung pasti.
sumber bacaan: kompas, idn-times, pusaran-media












