![]() |
| pembukaan festival erau 2026 |
Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara menerbitkan Surat Edaran Nomor B-62/SET-II/400.6/09/2026 mengenai Pelaksanaan Festival Budaya Erau Adat Kutai 2026. Melalui instruksi tertulis yang ditandatangani secara elektronik oleh Bupati Kutai Kartanegara Aulia Rahman Basri pada Selasa (15/9/2026) ini, seluruh elemen daerah diminta terlibat aktif menyukseskan gawai adat tersebut. Imbauan ini ditujukan kepada Aparatur Sipil Negara (ASN), Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), pegawai non-ASN, serta karyawan BUMN dan BUMD di lingkungan Kabupaten Kutai Kartanegara.
Keterlibatan tersebut diwujudkan secara fisik melalui kewajiban mengenakan pakaian adat Kutai, seperti baju taqwo, miskat, atau cinan, bagi para pegawai selama festival berlangsung. Di samping itu, Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan perusahaan daerah diinstruksikan menghias wajah kantor dengan umbul-umbul serta baliho bertema "Raja Menjamu Rakyatnya". Mereka juga diminta berpartisipasi dalam Expo Erau serta tradisi beseprah atau makan bersama duduk bersila.
Kebijakan ini bukan sekadar seremonial, melainkan bagian dari ikhtiar pemajuan kebudayaan dan pelestarian adat istiadat Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura. Bahkan, mitigasi di lapangan juga diatur; instansi terkait diwajibkan menyediakan pos penampungan air bersih pada titik-titik strategis untuk mendukung tradisi belimbur, yakni ritual saling menyiram air sebagai simbol pembersihan diri. Untuk memastikan seluruh gerak di lapangan selaras, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kutai Kartanegara ditunjuk sebagai pusat koordinasi teknis.
Langkah Pemkab Kutai Kartanegara menempatkan kebudayaan sebagai poros pembangunan mendapat pembenaran dari tingkat pusat. Kementerian Pariwisata menilai, Festival Adat Erau menjadi jangkar pariwisata daerah yang bertumpu pada narasi sejarah dan keluhuran tradisi.
"Festival Adat Erau menjadi benteng sekaligus jendela pelestarian warisan leluhur, yang pada saat bersamaan memperkuat daya tarik pariwisata," kata Asisten Deputi Pengembangan Amenitas dan Aksesibilitas Pariwisata Wilayah Kalimantan Kemenpar, Dwi Marhen Yono, saat membuka pesta adat di Kompleks Keraton Kutai Kartanegara (Museum Mulawarman), Minggu (20/9/2026). Menurut Dwi Marhen, keunikan adat istiadat autentik merupakan alasan fundamental mengapa Indonesia tetap menjadi magnet utama bagi pelancong mancanegara, melampaui sekadar tawaran keindahan alam komparatif dari negara-negara jiran.
Manifestasi dari kesetiaan menjaga akar tradisi dan lingkungan itu mewujud nyata pada upacara pembukaan di Stadion Rondong Demang, Minggu siang. Kehadiran visualisasi pesut mahakam (Orcaella brevirostris) dalam pertunjukan tari kolosal menjadi pusat perhatian penonton. Lewat kelenturan tubuh dan lenggak-lenggok lincah para penari yang mengenakan kostum menyerupai satwa endemik tersebut, suasana riak Sungai Mahakam seolah dipindahkan ke tengah stadion.
Pertunjukan kolosal ini tidak berhenti sebagai medium hiburan artifisial. Representasi mamalia air tawar yang kian terancam punah tersebut menyelipkan pesan ekologis yang kuat bagi masyarakat modern: bahwa merawat kebudayaan Kutai tidak dapat dipisahkan dari kewajiban menjaga ruang hidup dan kelestarian ekosistem Sungai Mahakam yang menghidupinya sejak berabad-abad silam.
sumber bacaan: kukarkab, antara, rri
Keterlibatan tersebut diwujudkan secara fisik melalui kewajiban mengenakan pakaian adat Kutai, seperti baju taqwo, miskat, atau cinan, bagi para pegawai selama festival berlangsung. Di samping itu, Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan perusahaan daerah diinstruksikan menghias wajah kantor dengan umbul-umbul serta baliho bertema "Raja Menjamu Rakyatnya". Mereka juga diminta berpartisipasi dalam Expo Erau serta tradisi beseprah atau makan bersama duduk bersila.
Kebijakan ini bukan sekadar seremonial, melainkan bagian dari ikhtiar pemajuan kebudayaan dan pelestarian adat istiadat Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura. Bahkan, mitigasi di lapangan juga diatur; instansi terkait diwajibkan menyediakan pos penampungan air bersih pada titik-titik strategis untuk mendukung tradisi belimbur, yakni ritual saling menyiram air sebagai simbol pembersihan diri. Untuk memastikan seluruh gerak di lapangan selaras, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kutai Kartanegara ditunjuk sebagai pusat koordinasi teknis.
Langkah Pemkab Kutai Kartanegara menempatkan kebudayaan sebagai poros pembangunan mendapat pembenaran dari tingkat pusat. Kementerian Pariwisata menilai, Festival Adat Erau menjadi jangkar pariwisata daerah yang bertumpu pada narasi sejarah dan keluhuran tradisi.
"Festival Adat Erau menjadi benteng sekaligus jendela pelestarian warisan leluhur, yang pada saat bersamaan memperkuat daya tarik pariwisata," kata Asisten Deputi Pengembangan Amenitas dan Aksesibilitas Pariwisata Wilayah Kalimantan Kemenpar, Dwi Marhen Yono, saat membuka pesta adat di Kompleks Keraton Kutai Kartanegara (Museum Mulawarman), Minggu (20/9/2026). Menurut Dwi Marhen, keunikan adat istiadat autentik merupakan alasan fundamental mengapa Indonesia tetap menjadi magnet utama bagi pelancong mancanegara, melampaui sekadar tawaran keindahan alam komparatif dari negara-negara jiran.
Manifestasi dari kesetiaan menjaga akar tradisi dan lingkungan itu mewujud nyata pada upacara pembukaan di Stadion Rondong Demang, Minggu siang. Kehadiran visualisasi pesut mahakam (Orcaella brevirostris) dalam pertunjukan tari kolosal menjadi pusat perhatian penonton. Lewat kelenturan tubuh dan lenggak-lenggok lincah para penari yang mengenakan kostum menyerupai satwa endemik tersebut, suasana riak Sungai Mahakam seolah dipindahkan ke tengah stadion.
Pertunjukan kolosal ini tidak berhenti sebagai medium hiburan artifisial. Representasi mamalia air tawar yang kian terancam punah tersebut menyelipkan pesan ekologis yang kuat bagi masyarakat modern: bahwa merawat kebudayaan Kutai tidak dapat dipisahkan dari kewajiban menjaga ruang hidup dan kelestarian ekosistem Sungai Mahakam yang menghidupinya sejak berabad-abad silam.
sumber bacaan: kukarkab, antara, rri












