![]() |
| sejak usia dini |
Peringatan Hari Kesaktian Pancasila menjadi momentum krusial untuk merefleksikan bagaimana nilai-nilai dasar negara tetap tegak berdiri di tengah lompatan peradaban Indonesia. Pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) bukan sekadar pergeseran geografis atau proyek modernisasi infrastruktur fisik. Lebih dari itu, IKN adalah ujian sekaligus pembuktian bahwa di tengah arus modernisasi yang masif, Pancasila tetap menjadi energi penggerak dan benteng ideologi bangsa yang sakti.
Ujian kesaktian Pancasila di era modern ini diwujudkan secara nyata melalui tiga pilar utama pembangunan IKN: manusia, ruang fisik, dan ketahanan sosial.
1. Menyiapkan Generasi Berkarakter Pancasila Menghadapi Zaman Baru
Modernisasi IKN menuntut kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) yang tidak hanya cerdas secara digital dan teknologi, tetapi juga kokoh secara ideologi. Masa depan dan keberhasilan IKN kelak berada di tangan anak-anak yang tumbuh di wilayah sekitar ibu kota baru tersebut.
Menyadari tantangan ini, Menteri Menko PMK Muhadjir Effendy menegaskan bahwa menanamkan falsafah hidup berbangsa sejak dini adalah investasi mutlak di tengah perubahan zaman. Saat meninjau Sekolah Laboratorium Pancasila (SLP) di SDN 013 Penajam, Kabupaten Penajam Paser Utara, beliau menekankan bahwa selain membekali anak-anak dengan keterampilan modern, menyiapkan budi pekerti dan nilai Pancasila adalah tanggung jawab bersama. Langkah ini memastikan masyarakat lokal seperti di Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara tidak terasing, melainkan menjadi tulang punggung pembangunan IKN yang beradab.
2. Mematri Nilai Kebangsaan dalam Arsitektur Modern Pusat Pemerintahan
Kesaktian Pancasila juga dipatri secara fisik agar tidak luntur oleh desain modernitas yang hampa makna. Di tengah pembangunan kompleks yudikatif IKN yang serba modern dan megah, identitas kebangsaan justru diperkuat melalui arsitektur Gedung Mahkamah Agung (MA).
Gedung peradilan setinggi tujuh lantai dengan luas bangunan mencapai 56 ribu meter persegi ini dirancang dengan mengusung filosofi lima pilar utama yang melambangkan lima sila Pancasila. Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) OIKN, Sonny Alissa, menjelaskan bahwa integrasi ini sengaja ditonjolkan untuk memberikan karakter kuat pada pusat keadilan kita. Modernisasi gedung publik di IKN membuktikan bahwa kemajuan arsitektur dapat berjalan beriringan dengan visualisasi ideologi negara.
3. Pancasila sebagai Jangkar Sosial Menghadapi Arus Urbanisasi
Dampak modernisasi IKN memicu gelombang urbanisasi, peningkatan mobilitas, serta tingginya keberagaman masyarakat di wilayah-wilayah penyangga. Di sinilah Pancasila diuji untuk menjaga persatuan di tengah potensi polarisasi sosial.
Kota Balikpapan, sebagai gerbang dan penyangga utama IKN, merasakan langsung pergeseran ini. Wakil Wali Kota Balikpapan, Bagus Susetyo, saat memperingati Hari Kesaktian Pancasila mengingatkan bahwa di tengah dinamika sosial yang bergerak cepat, Pancasila tidak boleh mandek sebagai teks yang dihafalkan. Ideologi ini harus dihidupkan sebagai jangkar pelindung dan kompas moral masyarakat demi merawat keharmonisan warga di tengah laju modernisasi yang tak terbendung.
sumber bacaan: kemenko-pmk, rri, seputar-fakta
Ujian kesaktian Pancasila di era modern ini diwujudkan secara nyata melalui tiga pilar utama pembangunan IKN: manusia, ruang fisik, dan ketahanan sosial.
1. Menyiapkan Generasi Berkarakter Pancasila Menghadapi Zaman Baru
Modernisasi IKN menuntut kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) yang tidak hanya cerdas secara digital dan teknologi, tetapi juga kokoh secara ideologi. Masa depan dan keberhasilan IKN kelak berada di tangan anak-anak yang tumbuh di wilayah sekitar ibu kota baru tersebut.
Menyadari tantangan ini, Menteri Menko PMK Muhadjir Effendy menegaskan bahwa menanamkan falsafah hidup berbangsa sejak dini adalah investasi mutlak di tengah perubahan zaman. Saat meninjau Sekolah Laboratorium Pancasila (SLP) di SDN 013 Penajam, Kabupaten Penajam Paser Utara, beliau menekankan bahwa selain membekali anak-anak dengan keterampilan modern, menyiapkan budi pekerti dan nilai Pancasila adalah tanggung jawab bersama. Langkah ini memastikan masyarakat lokal seperti di Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara tidak terasing, melainkan menjadi tulang punggung pembangunan IKN yang beradab.
2. Mematri Nilai Kebangsaan dalam Arsitektur Modern Pusat Pemerintahan
Kesaktian Pancasila juga dipatri secara fisik agar tidak luntur oleh desain modernitas yang hampa makna. Di tengah pembangunan kompleks yudikatif IKN yang serba modern dan megah, identitas kebangsaan justru diperkuat melalui arsitektur Gedung Mahkamah Agung (MA).
Gedung peradilan setinggi tujuh lantai dengan luas bangunan mencapai 56 ribu meter persegi ini dirancang dengan mengusung filosofi lima pilar utama yang melambangkan lima sila Pancasila. Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) OIKN, Sonny Alissa, menjelaskan bahwa integrasi ini sengaja ditonjolkan untuk memberikan karakter kuat pada pusat keadilan kita. Modernisasi gedung publik di IKN membuktikan bahwa kemajuan arsitektur dapat berjalan beriringan dengan visualisasi ideologi negara.
3. Pancasila sebagai Jangkar Sosial Menghadapi Arus Urbanisasi
Dampak modernisasi IKN memicu gelombang urbanisasi, peningkatan mobilitas, serta tingginya keberagaman masyarakat di wilayah-wilayah penyangga. Di sinilah Pancasila diuji untuk menjaga persatuan di tengah potensi polarisasi sosial.
Kota Balikpapan, sebagai gerbang dan penyangga utama IKN, merasakan langsung pergeseran ini. Wakil Wali Kota Balikpapan, Bagus Susetyo, saat memperingati Hari Kesaktian Pancasila mengingatkan bahwa di tengah dinamika sosial yang bergerak cepat, Pancasila tidak boleh mandek sebagai teks yang dihafalkan. Ideologi ini harus dihidupkan sebagai jangkar pelindung dan kompas moral masyarakat demi merawat keharmonisan warga di tengah laju modernisasi yang tak terbendung.
sumber bacaan: kemenko-pmk, rri, seputar-fakta







0 comments:
Post a Comment