Thursday, July 2, 2026

Siap Kepung IKN! Rahasia Samarinda Amankan Pangan dan Teknologi di Tahun 2026

 

sam
pertemuan walikota dan unhas

Pemkot Samarinda bersama Universitas Hasanuddin mulai menjajaki kolaborasi strategis memperkuat sektor pendidikan, riset, dan pengembangan teknologi yang diproyeksikan untuk mendukung posisi Samarinda, sebagai daerah penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN). Kota Samarinda dengan jumlah penduduk yang mendekati satu juta jiwa, sangat membutuhkan inovasi dan penguatan Sumber Daya Manusia (SDM) di tengah pesatnya dinamika pembangunan IKN.

Wali Kota Samarinda, Andi Harun:
Samarinda sangat terbuka terhadap kerja sama. Banyak hal yang bisa kita kolaborasikan dan saya berharap sinergi ini nantinya benar-benar menghasilkan sesuatu yang konkret dan bermanfaat bagi masyarakat


Ketua MWA Unhas, Prof. Dr. Andi Alimuddin Unde:
Pemkot memiliki potensi sumber daya alam dan kebutuhan pembangunan, sementara perguruan tinggi memiliki SDM, riset, dan inovasi. Ketika keduanya dipertemukan, akan lahir berbagai solusi nyata


Kapolri, Listyo Sigit Prabowo, meresmikan sejumlah fasilitas kepolisian di Kalimantan Timur, termasuk Asrama Polisi (Aspol) Tunggal Panuluan di Samarinda, pada 18 Mei 2026.  Sementara itu, Kapolri Listyo Sigit Prabowo mengaku senang dapat meresmikan sejumlah fasilitas kepolisian, yang baru dibangun di Kalimantan Timur. Kapolri mengapresiasi dukungan Pemkot Samarinda, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltim, serta jajaran Kepolisian Daerah (Polda) Kaltim atas pembangunan fasilitas tersebut. Kapolri juga menyoroti pembangunan sejumlah fasilitas kepolisian di Kilometer 13, yang dinilai strategis karena berada dekat dengan Ibu Kota Nusantara (IKN).

Kapolri, Listyo Sigit Prabowo:
Fasilitas satker yang dibangun ini berada kurang lebih 30 menit dari IKN, sehingga apabila ada kegiatan yang membutuhkan kehadiran Polri di IKN bisa terjangkau


Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda menilai penguatan sektor pangan menjadi kebutuhan mendesak seiring meningkatnya jumlah penduduk di kawasan penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN). Saat ini, sekitar 65 persen kebutuhan pangan wilayah tersebut masih dipenuhi dari luar Kalimantan. 

Asisten II Sekretariat Daerah Kota Samarinda, Marnabas Patiroy:
Pemerintah Kota Samarinda mengusulkan agar konsep pengembangan tidak hanya terbatas pada Tri City. PPU dan Kukar perlu menjadi bagian utama dalam skema tersebut karena memiliki potensi lahan yang besar untuk mendukung penyediaan pangan bagi kawasan penyangga IKN


Sumber berita: antarakutairayaborneoflash

Wednesday, July 1, 2026

BMKG Menjelaskan Gelombang Panas

 

eks
panas ekstrem

Gelombang panas ekstrem tidak dapat terjadi di Indonesia karena karakteristik iklim tropis yang memiliki suhu relatif stabil sepanjang tahun. Berdasarkan data resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta laporan global satu bulan terakhir, fenomena heatwave mematikan di Eropa dipicu oleh krisis iklim dan dinamika atmosfer yang sangat spesifik untuk wilayah lintang menengah hingga tinggi.

Gelombang Panas Menurut BMKG:
Eropa: Gelombang panas umumnya terjadi di lintang menengah-tinggi akibat udara panas yang terperangkap dalam sistem tekanan tinggi berskala luas. Benua Eropa baru-baru ini dilanda fenomena gelombang terburuk yang pernah tercatat. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa setidaknya 1.300 kematian berlebih telah terjadi di seluruh Eropa akibat kondisi cuaca ekstrem ini. Suhu yang mematikan ini memecahkan rekor di berbagai negara, Jerman mencatat suhu hingga 41,7°C dan Polandia mencapai 40,5°C. Fenomena ini menjadi alarm peringatan bagi seluruh dunia tentang ancaman krisis iklim yang semakin nyata.

Indonesia: Fenomena gelombang panas (heatwave) secara teknis tidak terjadi di Indonesia. Indonesia yang berada di wilayah ekuator memiliki variabilitas cuaca yang cepat dan dinamika atmosfer yang berbeda. Yang umumnya terjadi di Indonesia hanyalah peningkatan suhu panas harian akibat cuaca cerah dan rendahnya tutupan awan pada siang hari, terutama saat memasuki musim kemarau.

Perbandingan Global dan Indonesia: 
Cuaca ekstrem global saat ini juga memicu bencana ekologis. Di Eropa, suhu panas daratan diiringi oleh gelombang panas laut (marine heatwave) di Mediterania, dengan suhu permukaan laut mencapai 8°C di atas rata-rata. Sementara itu, wilayah Amerika Serikat Barat kini tengah berjuang menghadapi ancaman kebakaran hutan masif yang menghanguskan jutaan hektar lahan akibat kondisi yang kering dan berangin.

BMKG terus memperingatkan masyarakat Indonesia untuk bersiap menghadapi ancaman puncak kemarau dan potensi El Niño guna memastikan ketersediaan pasokan air. Jika kekeringan ekstrem dan suhu harian yang sangat tinggi berlangsung lama di Indonesia, dampak ekologis utamanya akan mirip dengan Amerika dan Eropa namun dengan konsekuensi tropis. Suhu yang tinggi berpotensi besar memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya di kawasan lahan gambut yang sangat sulit dipadamkan dan melepaskan emisi karbon masif. Di lautan, naiknya suhu perairan ekuator berisiko tinggi memicu fenomena pemutihan karang (coral bleaching) massal yang mengancam keanekaragaman hayati terumbu karang.

Wilayah IKN
Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperingatkan kemungkinan 80 persen El Nino berkembang pesat pada Juni–Agustus 2026. Fenomena ini berpotensi memicu gelombang panas ekstrem, kekeringan, hingga perubahan pola hujan global. Kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) pada tahun 2026 menghadapi potensi suhu panas ekstrem akibat kombinasi fenomena El Niño global, pemanasan global, dan efek urban heat island dari perubahan tata guna lahan perkotaan. Peringatan dari BMKG : Periode El Niño yang diprediksi berlanjut membuat musim kemarau di wilayah Kalimantan berlangsung lebih panjang dan kering. Puncaknya memicu potensi lonjakan suhu yang ekstrem.

sumber: bmkg-panaskontan-videobmkg-ELnino