![]() |
| asap karhutla |
Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur (Dinkes Kaltim) mengeluarkan peringatan siaga penuh seiring melonjaknya suhu udara hingga menyentuh 36 derajat Celcius. Gelombang panas ekstrem ini tidak hanya memperluas sebaran ISPA di tengah kepungan karhutla, tetapi juga memicu krisis air bersih akut yang siap meledakkan wabah diare akibat penurunan higienitas lingkungan.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kalimantan Timur mengimbau masyarakat untuk menjaga asupan cairan dan daya tahan tubuh. Langkah ini krusial guna mengantisipasi lonjakan penyakit di tengah musim kemarau dan cuaca panas ekstrem yang melanda wilayah tersebut.
Kepala Dinkes Kaltim, Jaya Mualimin, mengingatkan bahwa musim kemarau panjang sangat identik dengan lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Selain itu, penyusutan debit air akibat cuaca kering juga memicu ancaman pencemaran sumber air bersih yang berpotensi menimbulkan wabah di masyarakat.
"Ancaman kesehatan yang paling dominan muncul pada periode musim kemarau ini adalah ISPA," ujar Jaya Mualimin.
Senada dengan hal itu, Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinkes Kaltim, dr. Eryariyatin, menyebutkan suhu udara pada siang hari di Kaltim saat ini ekstrem, yakni menyentuh 34 hingga 36 derajat Celcius. Dampaknya, kelangkaan air bersih mulai mengancam warga.
"Kurangnya air bersih berisiko menimbulkan penyakit saluran pencernaan seperti diare. Oleh karena itu, masyarakat sangat dianjurkan untuk menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)," jelas Eryariyatin di Samarinda.
Ancaman ini kian nyata seiring maraknya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah titik di Kalimantan Timur. Kondisi udara yang kering, berdebu, dan bercampur asap karhutla dipastikan memperburuk gangguan pernapasan.
Secara nasional, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat lonjakan tajam pada kasus gangguan pernapasan. Hingga Agustus 2026, jumlah kasus ISPA di Indonesia telah menembus 15,6 juta kasus. Angka ini meningkat dibanding periode yang sama pada tahun 2025 yang tercatat sebanyak 15,4 juta kasus.
Antisipasi dampak buruk ini, Kemenkes telah menyiagakan seluruh rumah sakit, termasuk rumah sakit vertikal, untuk menangani kondisi kegawatdaruratan medis. Fasilitas kesehatan dan tenaga medis difokuskan pada penanganan heat stroke, gangguan pernapasan akut, hingga perburukan penyakit kronis yang dipicu oleh cuaca panas ekstrem.
sumber bacaan: antara, seputar-fakta, disway
Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kalimantan Timur mengimbau masyarakat untuk menjaga asupan cairan dan daya tahan tubuh. Langkah ini krusial guna mengantisipasi lonjakan penyakit di tengah musim kemarau dan cuaca panas ekstrem yang melanda wilayah tersebut.
Kepala Dinkes Kaltim, Jaya Mualimin, mengingatkan bahwa musim kemarau panjang sangat identik dengan lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Selain itu, penyusutan debit air akibat cuaca kering juga memicu ancaman pencemaran sumber air bersih yang berpotensi menimbulkan wabah di masyarakat.
"Ancaman kesehatan yang paling dominan muncul pada periode musim kemarau ini adalah ISPA," ujar Jaya Mualimin.
Senada dengan hal itu, Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinkes Kaltim, dr. Eryariyatin, menyebutkan suhu udara pada siang hari di Kaltim saat ini ekstrem, yakni menyentuh 34 hingga 36 derajat Celcius. Dampaknya, kelangkaan air bersih mulai mengancam warga.
"Kurangnya air bersih berisiko menimbulkan penyakit saluran pencernaan seperti diare. Oleh karena itu, masyarakat sangat dianjurkan untuk menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)," jelas Eryariyatin di Samarinda.
Ancaman ini kian nyata seiring maraknya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah titik di Kalimantan Timur. Kondisi udara yang kering, berdebu, dan bercampur asap karhutla dipastikan memperburuk gangguan pernapasan.
Secara nasional, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat lonjakan tajam pada kasus gangguan pernapasan. Hingga Agustus 2026, jumlah kasus ISPA di Indonesia telah menembus 15,6 juta kasus. Angka ini meningkat dibanding periode yang sama pada tahun 2025 yang tercatat sebanyak 15,4 juta kasus.
Antisipasi dampak buruk ini, Kemenkes telah menyiagakan seluruh rumah sakit, termasuk rumah sakit vertikal, untuk menangani kondisi kegawatdaruratan medis. Fasilitas kesehatan dan tenaga medis difokuskan pada penanganan heat stroke, gangguan pernapasan akut, hingga perburukan penyakit kronis yang dipicu oleh cuaca panas ekstrem.
sumber bacaan: antara, seputar-fakta, disway







0 comments:
Post a Comment